Suku Bangsa Melayu merupakan salah satu suku terbesar di Indonesia setelah Suku Jawa dan Sunda, diperkirakan jumlahnya mencapai lebih dari 20-30 juta jiwa. Ciri khasnya, mereka bermukim di pesisir-pesisir pantai khususnya Sumatera dan Kalimantan. Namun menjadi basis kuatnya adalah Pulau Sumatera dimana mereka diyakini berasal. Dan ini adalah perpanjangan dari tulisan saya yang dibuat hampir setahun yang lalu.
Nama Melayu mulai dikenal pada masa berdirinya kerajaan Melayu di wilayah Sungai Batanghari yang kini membelah Propinsi Jambi. Dari sini kemudian kemungkinan tersebar hingga ke semenanjung Melayu. Kerajaan-kerajaan Melayu pernah ada dan tersebar hingga ke Pulau Kalimantan (Borneo). Sedangkan bahasanya bahkan menyebar hingga ke bumi Papua.
Persebaran suku yang disebut Melayu ini antara lain :
SUMATERA
Aceh Tamiang- Nanggroe Aceh Darussalam: Dikenal dengan nama Bumi Muda Sedia, dengan semboyan Kasih Pape Setie Mati. Mengacu pada kerajaan Tamiang yang berada ditepian sungai Tamiang. Meski dikenal sebagai wilayah Melayu di Bumi Rencong, namun Aceh Tamiang (yang merupakan pecahan Aceh Timur) ini juga heterogen. Bahasa Melayu yang dipakai serupa dengan Melayu Langkat.
Pesisir Timur Sumatera Utara : Mulai dari Kabupaten Langkat hingga pesisir kabupaten Labuhan Batu, disitulah suku Melayu tinggal. Kota Medan yang merupakan kota no 3 di Indonesia penduduk aslinya adalah Melayu Deli. Langgam-langgam Melayu yang populer di Indonesia berasal dari Lagu Melayu Deli seperti Injit-injit semut. Dialek yang utama sebagian adalah Dialek Langkat, Deli dan Serdang.
Contoh
Maya kabar? – apa kabar?
Riau : Bagian barat Propinsi Riau didominasi oleh etnis Minangkabau khususnya di kawasan Kampar, Rokan Hulu, Inderagiri Hulu, Kuantan Singingi, bahkan kota Pekanbaru sendiri diperkirakan 60% penduduknya berasal dari Sumatera Barat dan berbahasa Minangkabau. Daerah Siak merupakan pusat Melayu di daratan Riau dengan basis di kawasan Siak Seri Inderapura yang dulunya merupakan pusat kerajaan Siak, Melayu dialek ‘o’ banyak dipakai di pedalaman Riau.
Kepulauan Riau : Sudah sangat diketahui bahwa Kepulauan Riau adalah pusat kebudayaan Melayu di Indonesia. dari sinilah katanya Bahasa Indonesia berakar, serupa dengan Johor. Mulai dari kepulauan Karimun, Singkep-Lingga hingga kepulauan Tambelangan, Kabupaten Natuna. Dialeknya cenderung menggunakan akhiran –e
Jambi : Dikenal dengan bahasa Melayu Jambinya selain berbagai bahasa lainnya yang masih digolongkan Melayu. Berpusat di kota Jambi dengan lafal ‘o’. Suku-suku yang disebut Melayu juga tersebar di pedalaman. Dialek ‘e’ seperti Malaysia dipakai di wilayah pesisir Tanjung Jabung
Contoh:
lho kau skrg di mano….aku dewek bukan wong jambi tapi limo taon tinggal disano……kangen kalu pas musim durian dengan duku kumpei lah lamo jugo aku idak ke jambi….tapi ktanyo lah maju sekarang
Bengkulu : Bahasa Melayu dialek Bengkulu dipakai di Kota Bengkulu dan Sekitarnya, sedangkan bahasa-bahasa lainnya adalah Bahasa Rejang, Lebong, Muko-Muko dan Serawai yang masih digolongkan Melayu Tua.
Contoh Melayu Bengkulu :
“Bayu lah wangi, siko kek ayuk Kinan!”
“Eh, lucu kali dak? Kalo misalnyo segedang kito la punyo anak?”
Sumatera Selatan : Sebagian besar wilayah Sumsel menggunakan varian melayu yang berbeda. Bahasa Melayu Palembang sangat kuat pengaruh bahasa Jawanya karena Sultan Palembang di masa lalu diperkirakan bernenek moyang Jawa. Dialek utama adalah dialek ‘o’ dan ‘e’. Contoh utamanya adalah, orang Palembang sering menyebut dirinya sebagai wong kito (orang kita yang sejenis dengan urang awak di Sumatera Barat). Sering disebut sebagai Baso Plembang
Contoh Melayu Palembang :
Mak mano kalo kito buka thread baru tentang baso plembang. sebab kadang men lagi ketemu budak plembang te metu baso jaman bingen laju tepingkel-pingkel.
belakangan makin galak bebaso plembang. awalnyo garo2 farah samo aku baru tau kalok umak-bapak kami tu ternyato bekawan nian. jadilah sering sms-an kami2 ni. berhubung ceritanyo “wong kita galo” ni tadi banggo nian samo baso leluhur, naaaa… mulai lah bebaso plembang terus.
dan lamo2 kuperhatike, plembang tu icak2nyo kecik nian. satu kenal samo yang lain. pacak lah itu di kawinan sepupunya, ado pulok eyangku. ujinyo jadi tamu bae, tapi diundang pulok pas siraman.
Bangka-Belitung : Juga merupakan penyebaran suku Melayu dengan dialek tersendiri.
Contoh Melayu Bangka :
lah lame dak pulang hutan di sekitar riau-silip agik ade dak ok,coz terakir ku palang hutang2 disane lah jadi kulong semue,kirak e ade lah dikit kesadaran kalau lah sude dimbil hasil e mbok ya lobange ditutup be,masak nek berbuat nggak bertanggung jawab aben,kasian kek anak cucu kite kelak dak pacak agik bekebun kelak
Melayu di Kalimantan
Apa yang disebut Melayu di Pulau Kalimantan ini ada dua asal usul, yakni yang memang berasal dari tanah Melayu, baik itu Sumatera atau Semenanjung Malayu, atau orang-orang Dayak yang masuk Islam dan menjadi atau menganggap dirinya sebagai Melayu.
Suku Melayu yang hidup di pesisir Kalimantan Barat umumnya adalah keturunan pendatang dari Riau Kepulauan atau Semenanjung. Sedangkan Melayu yang di tepi-tepi sungai adalah keturunan percampuran antara Melayu, Bugis dan Dayak atau orang Dayak yang masuk Islam dan menganggap dirinya sebagai Melayu. Dialek Melayu yang lazim di Kalimantan Barat antara lain :
– Dialek Pontianak
– Dialek Sambas
– Dialek Landak (Ngabang), dan
– Dialek Ketapang
Dialek Pontianak menggunakan akhiran ‘a’ yang terbaca ‘e’ sebagaimana Melayu Malaysia, namun dalam dialek Sambas ‘a’ ini terbaca ‘é’ hamper mirip dengan Betawi.
Untuk kasus di Kalimantan Selatan, apa yang disebut Melayu adalah orang-orang Banjar. Bahasa Banjar sendiri dibagi menjadi dua varian, yakni Banjar Hulu dan Banjar Kuala. Namun persamaan dengan Melayu di Sumatera semakin jauh dengan banyaknya pengaruh kosakata Bahasa Jawa dan Dayak. Contoh Bahasa Banjar antara lain :
- arai (Banjar Hulu), himung (Banjar Kuala); artinya gembira
- hagan (Banjar Hulu), gasan (Banjar Kuala); artinya untuk
- tiring (Banjar Hulu), lihat (Banjar Kuala); artinya melihat
- bungas (Banjar Hulu), langkar (Banjar Kuala); artinya cantik
- tingau (Banjar Hulu), lihat (Banjar Kuala); artinya toleh, lihat
- balalah (Banjar Hulu), bakunjang (Banjar Kuala); artinya bepergian
- lingir (Banjar Hulu), tuang (Banjar Kuala); artinya tuang
- tuti (Banjar Hulu), tadi (Banjar Kuala); artinya tadi
- ba-ugah (Banjar Hulu), ba-jauh (Banjar Kuala); artinya menjauh
- macal (Banjar Hulu), nakal (Banjar Kuala); artinya nakal
- balai (Banjar Hulu), langgar (Banjar Kuala); artinya surau
- tutui (Banjar Hulu), catuk (Banjar Kuala); artinya memukul dengan palu
- tukui (Banjar Hulu), periksa (Banjar Kuala); artinya memeriksa
- padu (Banjar Hulu), dapur (Banjar Kuala); artinya ruang dapur
- kau’u (Banjar Hulu), nyawa (Banjar Kuala); artinya kamu
- diaku (Banjar Hulu), unda (Banjar Kuala); artinya aku
- disia (Banjar Hulu), disini (Banjar Kuala); artinya disini
- bat-ku (Banjar Hulu), ampun-ku (Banjar Kuala); artinya punya-ku
- bibit (Banjar Hulu), ambil (Banjar Kuala); artinya ambil
- ba-cakut (Banjar Hulu), ba-kalahi (Banjar Kuala); artinya berkelahi
- diang (Banjar Hulu), galuh (Banjar Kuala); artinya panggilan anak perempuan
- nini laki (Banjar Hulu), kayi (Banjar Kuala); artinya kakek
- utuh (Banjar Hulu), nanang (Banjar Kuala); artinya panggilan anak lelaki
- uma (Banjar Hulu), mama (Banjar Kuala); artinya ibu
- hingkat (Banjar Hulu), kawa (Banjar Kuala); artinya dapat, bisa
- puga (Banjar Hulu), hanyar (Banjar Kuala); artinya baru
- salukut (Banjar Hulu), bakar (Banjar Kuala); artinya bakar
- kasalukutan, kamandahan (Banjar Hulu), kagusangan (Banjar Kuala); artinya kebakaran
- tajua (Banjar Hulu), ampih (Banjar Kuala); artinya berhenti
- bapandir (Banjar Hulu), bepéndér (Banjar Kuala); artinya berbicara
- acil laki (Banjar Hulu), amang, paman (Banjar Kuala); artinya paman
Varian Banjar di Kalimantan Selatan dan Tengah sedikit berbeda…Banjar Kalsel mengucapkan kadada (untuk tidak ada), sedangkan di Kalimantan Tengah yang banyak terpengaruh Bahasa Indonesia mengucapkan kadida.
Contoh lain Bahasa Banjar :
“Bahujung napa cu? Jangankan bahujung malah marugi. Wayah ini awak sudah ringkutan, pinggang sakit, tulang rasa dicucuk-cucuk, bajalan manggatar dan tabungkuk-bungkuk,” ujar kai.
Sedang di Kalimantan Timur ada sebentuk bahasa yang dianggap Melayu, yakni Kutai yang dipakai oleh suku Kutai di kawasan tepian Sungai Mahakam. Disamping itu ada sebentuk dialek Melayu yang dipakai di kawasan Berau, belahan utara Kalimantan Timur
Contoh perbandingan Bahasa Banjar dengan Kutai adalah :
- busu (Banjar), busu (Kutai); artinya saudara dari orangtua kita yang termuda (bungsu).
- umpat (Banjar), umpat (Kutai); artinya ikut
- kawa (Banjar), kawa (Kutai); artinya dapat, bisa
- kayina (Banjar), kendia (Kutai);artinya nanti
- inya (Banjar), nya (Kutai);artinya dia
- sidin (Banjar), sida (Kutai); artinya beliau
- muntung (Banjar), moncong, sungut (Kutai); artinya mulut
- karinyum (Banjar), kerinyum (Kutai); artinya senyum
- rancak (Banjar), rancak (Kutai); artinya sering
- talu (Banjar), telu (Kutai); artinya tiga
- banyu (Banjar), aer (Kutai); artinya air
- pagat (Banjar), pegat (Kutai); artinya putus
- iwak (Banjar), iwak, jukut (Kutai); artinya ikan
- ilat (Banjar), elat (Kutai); artinya lidah
- dadai (Banjar), dadai (Kutai); artinya jemur
- jabuk (Banjar), jabok (Kutai); artinya lapuk
- andak (Banjar), andak (Kutai); artinya taruh
- luar (Banjar), jaba (Kutai); artinya luar
- kawah (Banjar), kawah (Kutai); artinya kuali
- muha (Banjar), muha (Kutai); artinya muka, wajah
- puhun (Banjar), puhun (Kutai); artinya pohon
- kolehan (Banjar Kuala), polehan (Kutai); artinya hasil
- kesah (Banjar Kuala), kesah (Kutai); artinya kisah
- tajak (Banjar), tajak (Kutai); artinya tancap
- pacul (Banjar), pacul (Kutai); artinya lepas
- amun (Banjar), amun (Kutai); artinya kalau
- padah (Banjar), padah (Kutai); artinya bilang
- jawau (Banjar), jabau (Kutai); artinya singkong
- payau (Banjar), payau (Kutai); artinya rusa
- lawai (Banjar), lawai (Kutai); artinya benang
- satundunan (Banjar), satundunan (Kutai); artinya setandanan
- tutuk (Banjar), tutuk (Kutai); artinya tumbuk
- tatak (Banjar), tetak (Kutai); artinya potong
- jarang (Banjar), jerang (Kutai); artinya memasak air
- carik (Banjar), carek (Kutai); artinya robek
- guring (Banjar), goreng, tidur (Kutai); artinya tidur
- sanga (Banjar), sanga (Kutai); artinya goreng
- olah (Banjar), olah (Kutai); artinya buat
- muyak (Banjar), muyak (Kutai); artinya bosan
- wada (Banjar), wada (Kutai); artinya cela
- uyah (Banjar), uyah (Kutai); artinya garam
- acan (Banjar), acan (Kutai); artinya terasi
- sudu (Banjar), sudu (Kutai); artinya sendok
- lading (Banjar), lading (Kutai); artinya pisau
- lawang (Banjar), lawang (Kutai); artinya pintu
- sarudung (Banjar), serudung (Kutai); artinya kerudung
- kamih (Banjar), kemeh (Kutai); artinya air kencing
- hera’ (Banjar), herak (Kutai); artinya tahi
- kiyau (Banjar), kiyau (Kutai); artinya panggil
- putik (Banjar), putik (Kutai); artinya petik
- tapas (Banjar), tepas (Kutai); artinya cuci
- parak (Banjar), parak (Kutai); artinya dekat
- calap (Banjar), celap (Kutai); artinya basah
- halus (Banjar), halus (Kutai); artinya kecil
- bujur (Banjar), bujur (Kutai); artinya betul, lurus
- lanjung (Banjar), lanjong (Kutai); artinya keranjang
- karadau (Banjar), keradau (Kutai); artinya omong kosong
- bancir (Banjar), bancir (Kutai); artinya banci
- gair (Banjar), gaer (Kutai); artinya takut
- jauh (Banjar), jaoh (Kutai); artinya jauh
- karing (Banjar), kereng (Kutai); artinya kering
- habang anum (Banjar), habang muda (Kutai); artinya merah muda
- buting (Banjar), buting (Kutai); artinya buah
- selawi (Banjar Kuala), selawe (Kutai); artinya duapuluh lima
- tihang (Banjar), tihang (Kutai); artinya tiang
- mandi (Banjar), mendi (Kutai); artinya mandi
- sodok (Banjar Kuala), sodok (Kutai); artinya tikam
- tulak (Banjar), tulak (Kutai); artinya berangkat
- surung (Banjar), sorong (Kutai); artinya sodor
- kurus karing (Banjar), koros kereng (Kutai); artinya kurus kering
- ular sawa (Banjar), tedung sawah (Kutai); artinya ular sawah
Ada pula kelompok Melayu yang bermukim di Pulau Bali, tepatnya di kampung Loloan, Kota Negara, Kabupaten Jembrana. Mereka berleluhur asal Semenanjung terutama Trengganu dan Pontianak (Kalimantan Barat). Berbahasa Melayu di rumah, Berbahasa Bali diluar komunitasnya. Mereka diperkirakan datang ke Bali sekitar abad ke-18. Di Banyuwangi, Jawa Timur terdapat Kampung Melayu, namun kini komunitasnya hanya berbahasa Jawa dan Madura, Melayu telah terasimilasi menjadi penduduk setempat.
Sedangkan yang di Jakarta, Melayu sendiri sudah bukan lagi murni karena terjadi percampuran berbagai ras yang melahirkan Orang Betawi, dengan berbahasa Melayu Jakarta yang sekitar 43% kosakatanya dipengaruhi Bahasa Sunda. Melayu Betawi sendiri terbagi atas 3 sub-dialek utama, yakni :
– Betawi Kota, dengan contohnya : aye udeh makan (dipakai di wilayah pusat)
– Betawi Udik, contohnya : sayah udah makan (dipakai di pinggiran Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi hingga Karawang)
– Betawi Ora, contohnya : lu ora pegi ke lanang lu? Betawi Ora ini terpengaruh oleh bahasa Jawa seperti dalam kata menjalankan yang menjadi njalanin, sedangkan pada kosakata Betawi umum yang terpengaruh Sunda menjadi ngejalanin.
Sebenarnya Bahasa Melayu Betawi ini bukanlah bentukan dialek Melayu, melainkan sebagai hasil dari kreolisasi yang berlangsung selama berabad-abad sebagai bahasa antar suku dan ras di tanah Batavia. Disamping itu juga terdapat dialek Melayu dipakai oleh kaum Peranakan Cina di Kabupaten Tangerang, yang sedikit banyak sangat mirip dengan Melayu Betawi, dan inilah mungkin wilayah Melayu di Pulau Jawa.
Melayu Indonesia Timur
Bahasa Melayu di kawasan Timur Indonesia keberadaannya merupakan akibat dari kontak dagang semenjak dahulu kala antara pedagang di timur dan barat. Bahasa ini semakin tersebar dengan pesat semenjak kekuasaan Belanda membawa bahasa ini sebagai sarana penyebaran agama Kristen. Seperti halnya Betawi, Melayu di kawasan ini juga merupakan bentuk Kreol dengan susunan bahasa lebih mirip bahasa Eropa ketimbang Indonesia sendiri, bahkan ada suatu penelitian mengatakan bahwa bahasa Melayu Indonesia Timur tidak berkembang langsung dari Semenanjung atau Sumatera, melainkan dari Pulau Kalimantan bahkan Brunei. Di kawasan ini, penyingkatan juga sangat lazim…Varian tersebut antara lain
– Melayu Manado (di kawasan Sulawesi Utara)
– Melayu Makassar (Makassar dan sekitarnya)
– Melayu Larantuka (kawasan Flores Timur, NTT)
– Melayu Kupang (Kupang dan sebagian Timor Barat, NTT)
– Melayu Ternate (Pulau Ternate dan Halmahera)
– Melayu Bacan (Pulau Bacan dan sekitarnya)
– Melayu Ambon (Pulau Ambon dan Lingua Franca di Maluku)
– Melayu Papua/Irian
Contoh Melayu Manado :
Tulis tu apa mo beking, kong putuskan apa tu mo beking capat, apa tu mo beking nanti, apa tu orang laeng mo beking, deng apa tu mo kase sorong vor berikut
Contoh Melayu Kupang :
Dong bekin semacam skenario supaya dong yang tukang bunu orang, trus ada orang laen yang son tau hal yang jadi tumbal.Na, kalo batul skenario model begitu, bararti ini orang yang barmaen di balakang layar tu bukan sambarang orang. Dong pasti tau batul cara bunu orang trus hilangkan jejak, trus jebak orang laen supaya maso di dong pung perangkap. Naaaaa, bapa kan tau to, sapa yang biasa barmaen strategi. Jadi, manurut beta, pasti ada jaringan, mo jaringan apa ke apa, yang panting masala di Poso tu pas ada dia pung jaringan.
Contoh Melayu Papua :
Terimakasih pace SPW atas paketnta. skarang masih tlalu pagi jadi mata sayup sayup tapi sa kan cek paket tu, baru ko so kunjug sobat Asyo di rumah sakit kah belum. Pace dorang so keluarkan peluruh dari perut Asyo bawa ke laboratorium. mudah mudahan peluru itu tak nyasar di jalan sehingga diganti deng peluruh lain yang beda merek.
Sedemikian dulu jabaran saya tentang bahasa Melayu berikut ragamnya di belahan bumi Indonesia, dari barat sampai ke timur, bahkan sebenarnya bahasa ini jauh semenjak dulu berkembangnya. Semenjak tahun 1926, bahasa Melayu sudah menjadi bahasa ‘resmi’ di Papua untuk mewadahi ratusan suku, dan bahkan sebentuk dialek Melayu sudah terbentuk disana. Sedangkan pada tahun 1928 barulah nama Melayu digantikan dengan Bahasa Indonesia setelah Soempa Pemoeda.
Diperlukan upaya bersama untuk mengembangkan bahasa Indonesia (dan Melayu). Bahasa Indonesia sendiri mengalami banyak penyerapan dari bahasa-bahasa lain, baik bahasa asing maupun bahasa daerah khususnya Jawa dan Melayu Betawi yang seolah sudah jadi bahasa kedua dinegeri ini. Bagaimana dengan di Malaysia dan Singapura?
Semoga takkan hilang Melayu didunia….


Hmmm…….. https://m.facebook.com/KumpulanCeritaRakyatBanjarmasin/posts/602372419777466?_rdr#like_602372419777466
silahkan masukkan argumentasi anda !! diharapkan anda lebih bijaksana.
Ngarang aje lho, klo bahasa melayu itu berasal dari sumatra….
saya menghargai kritik anda, tapi belajarlah lebih bijaksana dalam mengkritik. diharapkan kritik yang membangun, bukan kritik yang tak berdasar. kemukakan argumen anda secara logis dan ilmiah. kalau anda menggunakan buku sebagai sumbernya, beri tahu saya judul dan halamannya. diharapkan anda lebih dewasa dalam berbagai hal termasuk mengajukan argumentasi. saya tunggu argumentasi anda
Baa iko vaso minang indak di masuakan ka dalam baso melayu. Bahasa minang itu bahasa melayu bahkan dialek bahasa melayu. Bahasanya lebig dekat dengan bahasa melayu di banding bahasa banjar
siapo jugo yang ngomongi bahasa banjar?
Oi jang caliak lah di ateh. Ang kecek baso banjar ko tamasuak baso melayu. Manga ang indak mamasuakan baso minang ka dalam baso melayu.
Maaf nean Datuk,tulisan ini memang jauh dari sempurna. Msh bnyak kurang y. Harap maklum.tanpa tulisan ini, Bahasa Minang tetap menjadi salah satu bahasa melayu yg paling tua. Saya sangat menghormati suku Minang, sanak sagalo
Memang benar melayu berasal dari sumatera, tepatnya sumatera selatan. buktinya prasasti tertua berbahasa melayu ditemukan di sumatera selatan berangka tahun 680-an masehi. diantaranya prasasti kedukan bukit, prasasti talang tuwo, dll. di jawa tengah juga ditemukan juga prasasti berbahasa melayu karena memang pada waktu itu pulau jawa termasuk wilayah kekuasaan sriwijaya yang berpusat di palembang, sumatera selatan. adanya prasasti tsb menjadi bukti tak terbantahkan mengenai asal usul melayu dan bahasa melayu.
Memang kita sejak awal memiliki peradaban yang maju, terbukti dari berbagai peninggalan sejarah. Kita sebagian Sumatera bagian selatan, terutama yang berdialek Basemah (Pagaralam, Muara Enim, Semende, Lahat, dan Bengkulu bagian selatan (Padang Guci, Kedurang) memiliki sejarah yang panjang, sejarah yang penuh peradaban. Kita memiliki sejarah peradaban yang maju. Bangga nean nga jeme kite. Yukk bangun agi peradaban itu